Industri Pelayanan kesehatan di Indonesia, sudahkah?

Dalam sebuah diskusi dengan para dokter di salah satu rumah sakit di Bandung, saya sempat menyebutkan industri pelayanan kesehatan. Salah seorang dokter waktu itu menyatakan keberatan dengan istilah tersebut. Menurut beliau pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit bukan bagian dari industri. Orientasi dalam pelayanan kesehatan bukan uang, begitulah kira-kira argumennya. apakah benar demikian?

Sebenarnya tidak sulit untuk mencari pembenaran bahwa pelayanan kesehatan sudah menjadi industri. Dalam era globalisasi ini, kita tinggal melihat bagaimana situasinya di negara atau benua lain. Di Amerika, pelayanan  kesehatan menjadi industri terbesar dan termasuk industri dengan pertumbuhan tercepat berdasarkan survei salah satu Biro Statistik Amerika tahun 2004. Industri pelayanan kesehatan menyediakan 13,5 juta pekerjaan bagi masyarakat Amerika. Bagaimana dengan di Malaysia? pelayanan kesehatan merupakan 1 dari 12 NKEA (National Key Economic Area) yang diharapkan untuk meningkatkan pendapatan nasionalnya. Walaupun kontribusinya belum setinggi di Amerika, arahnya sudah dapat kita lihat.

Jika dilihat dari perspektif definisi formal, kita akan temukan industri pada dasarnya dibagi ke dalam beberapa tahapan. Tahapan awal ditandai dengan industri primer dimana terjadi eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam. Industri berikutnya adalah industri sekunder yang dicirikan oleh proses pengolahan yang secara khusus diwakili oleh industri manufaktur. Baru kemudian masuk ke industri tersier untuk sektor jasa. Pelayanan kesehatan tentu saja masuk ke dalam kategori ini. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk menolak fakta bahwa pelayanan kesehatan,dan tentunya rumah sakit, adalah bagian dari suatu industri.

Barangkali yang dikhawatirkan adalah bahwa kalau pelayanan kesehatan sudah menjadi industri maka misi mulianya menyelamatkan manusia menjadi terlupakan. Boleh jadi ya, mengingat cukup banyak kejadian yang kita lihat dan dengar di negara ini tentang misi kemanusiaan yang dikalahkan faktor uang (komersial). Tetapi yang harus kita ingat adalah institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan pun harus mampu bertahan dan terlebih lagi harus mampu bersaing. Oleh karena itu cara berpikir ala bisnis perlu dikedepankan. Nilai-nilai seperti profesionalisme, kompetisi, transparan, dsb dalam binis harus menjadi nilai-nilai dalam industri kesehatan. Nilai-nilai itulah yang akan membedakan pelayanan kesehatan sesungguhnya dengan yang abal-abal. Sudah saatnya pelayanan kesehatan di negeri ini mendapatkan perhatian serius dari semua pemangku kepentingan.

Notice: This work is licensed under a BY-NC-SA. Permalink: Industri Pelayanan kesehatan di Indonesia, sudahkah?

3 Comments

  1. Herwindo Iman Adhiwijaya says:

    Justru bisnis–business, bahasa inggris: urusan–kesehatan (rumah sakit, dokter) harus dikategorikan profesi..
    Agar tidak bias dengan fungsi sosial menyantuni orang miskin

    • admin says:

      Kalau soal profesi dekat sekali dong win ya dengan profesional. jadi tidak ada istilah pelayanan kesehatan yang seadanya karena pasiennya tidak punya uang, ndeso (tidak tahu hak-haknya) dsb.

  2. You realize thus considerably in the case of this matter, produced me in my opinion believe it from numerous various angles. Its like women and men don’t seem to be involved unless it is one thing to do with Lady gaga! Your own stuffs excellent. At all times handle it up!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

question razz sad evil exclaim smile redface biggrin surprised eek confused cool lol mad twisted rolleyes wink idea arrow neutral cry mrgreen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: